Berisikan semua yang dirasa, dipikir, digagas, dikarsa, dan dialami. Semuanya ditata dalam sudut-sudut cahaya kehidupan. Lampu air mata, tawa, doa, dan harapan, meneranginya. Rumah yang berisi hal-hal manusiawi dilihat dari kacamata seorang manusia.

17/06/09

Cerita-cerita di Pagi hari

Gw lagi di CGK termina B1, lagi nunggu flight pertama ke Semarang. Gw rasa gw gak pernah bisa berdamai dengan flight pagi. Contohnya saja pagi ini, hujan sudah mengguyur Jakarta dari kemarin malam, dan itu bikin pagi ini lebih gelap karena mendung. Bikin gw malas bangat harus merangkak keluar dari ranjang.

Apa lagi tau sendiri kan gw gimana sama yang namanya hujan, bisa berubah jadi autis. Apa lagi hujannya pagi-pagi. Ugh bikin gw gak bisa ngapa-ngapain. Mungkin definisi surga buat gw yang paling dekat adalah hujan di pagi hari. Itu bisa bikin gw berasa damai bangat. Bisa-bisa puluhan tahun gw lewati hanya seperti lamunan sesaat.

Balik lagi soal first flight. Di penerbangan pagi gw yang lain, gw pernah bela-belain mandi untuk penerbangan jam 6 pagi -- biasanya gw gak mandi kalo flight pagi, bayangkan JAM ENAM PAGI! Itu berarti gw sudah harus bangun jam3 karena gw sudah harus tiba jam 5 di bandara.

Setelah gw tiba di Bandara, pesawatnya terlambat hampir 6 jam...

Bahkan sewaktu gw kembali ke Indonesia, flight gw dioper dari penerbangan pagi jadi penerbangan malam, karena pesawat yang akan gw tumpangi gagal mendarat. Beruntung, karena sebelum gw sempat order taksi, gw ditelpon oleh maskapainya prihal keterlambatan tsb.

Yah, mungkin seumur hidup gw, musuh gw adalah bangun pagi.

Ok, gw sudah lama ajah gak nulis ini blog, sebenarnya alasannya sederhana aja, blog ini mau digusur. Mungkin gw sudah pernah cerita ke beberapa pembaca di sini, tapi itu juga kesannya masih ditutupi. Hehe sok misteri gitu.

Jadi Joe's House akan tutup karena tahun ini Joe gak tinggal sendiri lagi. Penasaran kan gimana kelanjutan Joe's House? Makanya jangan ganti list favorit di web browser anda hehe.

Ok deh, pesawat gw sudah datang nih. GTG




www.gudangpiranti.com
Powered by XL BlackBerry® smartphone

03/06/09

Mujizat ke dua... (perjalanan III)

jadi beginilah gw mulai bercerita...(perjalanan i)
semua orang berubah...(perjalanan ii)


Siang ini langit cerah, awan bergerak pelan. Sunyi ruangan hanya ditemani suara sayup-sayup printer brdecit dari lantai dua.

"Gw masih bisa percaya sama lu kan Yud?"

Tentu saja enggak! Bagaimana bisa seseorang yang diberi tanggung jawab menjaga sebuah mobil, menghilangkannya dan kita bisa mempercayainya??

Gw tahu, dalam kondisi seperti ini, tidak ada yang mau mempercayai gw. Makanya pada saat ada orang-orang yang berat, namun masih percaya dan mendukung gw, gw percaya Tuhan beserta gw. Bahwa gw tahu Tuhan tidak pernah memberikan beban melebihi pasung yang harus gw bawa. Gw gak tahu apa tujuan Tuhan memberikan cobaan ini terhadap gw, tapi kalo tujuannya untuk membuat gw berhenti nonton bokep semakin kurang tidur, Dia berhasil. Bahkan satu waktu gw pernah tertidur di lantai kloset. Gw sudah gak bisa bedakan lagi itu karena sangkin ngantuknya atau sangkin takutnya.

Dua hari berselang, akhirnya kasus ini gw laporkan juga ke Polsek. Kenapa gw sampai nunggu dua hari berselang setelah kejadian? Padahal 1X24 jam, kasus penggelapan sudah boleh dilaporkan kepada pihak berwajib? Mungkin bisa dibilang gw masih mengharapkan kepercayaan gw benar. Resmi tanggal 22 April jam 14.00wib BAP penggelapan kendaraan, keluar.

Kali ke dua ke Cawang, bukan bertujuan mencari tahu keberadaan dia dari orang tuanya, melainkan memulai penyelidikan. Informasi yang gw ketahui dia kawin lari ke Salatiga, jawa tengah. Keluarga istrinya sebelumnya tinggal di Cawang, namun karena mengalami penggusurah, akhirnya mereka pindah ke Cilengsih, Depok. Alamatnya kabur, dan warga tidak ada yang tahu pasti rumahnya. Istrinya dia punya kakak, namanya Indah. Indah tinggal bersama suami dan mertuanya di Cawang. Keluarga mertuanya Indah lah yang gw coba cari untuk mengetahui alamat orang tua istrinya dia, dengan harapan mereka membawa gw ke alamat dia.

Setelah masuk-keluar gang, ternyata diketahui bahwa mertuanya Indah baru saja pindah hari Minggu, itu berarti sehari sebelum kehilangan mobil. Gw sempat mengira kepindahan mereka merupakan siasat dia untuk menghilangkan jejak, namun perkiraan itu buyar ketika salah-seorang yang mengantar kepindahan keluarga mertua Indah ini memastikan alasan sebenarnya dari kepindahan itu. Dan hari itu tidak menunjukan tanda-tanda keberadaan dia di Cawang.

Gw masih punya jejak lain, yaitu keberadaan nomor rekening yang biasa digunakan oleh dia. Ada dua nomor rekening yang diduga dia gunakan, yang satu BCA dan yang lainnya BRI. Keduanya bukan atas nama dia, namun salah-satunya merupakan atas nama istrinya. Ada kemungkinan rekening yang di BRI merupakan nama samaran istrinya.

Gw juga masih punya jejak dari hasil penyelidikan telepon genggam yang dia gunakan. Sayang jejak ini bisa dibilang pasif, karena hanya terdeteksi saat HP hidup, dan dipersulit dengan seringny nomor diganti. Tapi gw mau bilang, kalo ada di antara kamu mengira ini sama sekali tidak bisa dilacak sehingga berniat untuk berbuat jahat, maka gw mau pastikan kamu salah besar.

Dari penyelidikan HP tersebut diketahui di mana lokasi terahir HP hidup. Namun karena HPnya tidak aktif kembali, maka gw pikir kemungkinan besar dia sudah tidak berada di sana atau bisa jadi dia hanya numpang lewat di sana. Maka gw fokuskan pada penyelidikan no rekening.

Beruntung gw punya blog seperti ini, beruntung gw bergabung di forum dan milis-milis, sehingga banyak dari antara teman-teman maya memberikan bantuan yang tidak terkira besarnya. Dari mereka-mereka juga gw menemukan informasi yang sangat berguna, alamat KTP yang digunakan untuk membuat rekening BCA.

Begitu mengetahui alamat tersebut, gw bersama teman-teman bergegas menuju Mampang Prapatan gg Jati no12. Sebenarnya bisa dibilang gw terlambat beberapa jam, karena informasi tersebut masuk inbox jam 2 dini hari, sedangkan gw baru buka jam 5 pagi. Saat seperti ini, waktu begitu berharga, karena gw tidak benar-benar tahu apakah gw tepat waktu atau sudah terlambat.

Setiba di sana, gw bersama teman-teman gw menyusuri gang tersebut. Ternyata alamat terseut fiktif. Di sana ada tiga orang yang memiliki nama sama dengan istri dia, tapi tidak ada satu pun orangnya.

Atas inisiatif teman, kita terus menysuri ke dalam. Ternyata informasin keberadaan dia di sana tidak sepenuhnya salah, karena ternyata toh orang dengan ciri-ciri seperti dia -- gendut, putih, berkaca-mata, menggunakan jupiter biru, bernama Mikael, memang pernah tinggal di sana, dua tahun yang lalu, tapi sempat terlihat warga berada di sana sebelum banjir besar. Jantung gw berdegup memburu, karena itu berarti seminggu sebelum mobil hilang, padahal dia mengaku ke gw kalo dia dari Surabaya.


.

Bebaskan Mba Prita Mulyasari



Mungkin bisa dibilang gw salah-satu yang terlambat mengetahui berita tentang mba Prita Mulyasari. Itu juga karena gw baru buka blog hari ini dan baca beritanya di_sini. Siapakah dia? Gw juga gak tahu pasti dia itu siapa, hanya yang gw tahu, satu lagi orang harus dibrengus karena mengungkapkan pikirannya.

Berawal dari suara pembaca di detik.com, Ibu dengan dua anak ini menyampaikan keluhannya terhadap RS OMNI International. Namun tidak dinganya, justru keluhan tersebut, oleh PT Sarana Mediatama International sebagai pengelola rumah sakit, ditanggapi dengan gugatan secara pidana maupun perdata, dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Pasal yang dipakai apa lagi kalo bukan Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang isinya:

Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.


Praktis sejak 13 Mei 2009 lalu, mba Prita mendekam di Paviliun Menara, ruang tahanan khusus titipan sambil menunggu perkara disidangkan, di Lembaga Permasyarakatan Wanita Tangerang.

Yang gak masuk di otak gw....
Mungkin otak gw terlalu kecil, mungkin isinya terlalu naif, tapi yang jelas gw benci dengan ketidak-adilan. Gw benci kalau seseorang ditindas karena dia tidak memiliki apa-apa, dan dalam konteks ini gw benci kalau seseorang harus ditindas karena dia bicara.

Gw belum pernah ketemu ada orang yang nulis surat pembaca di Kompas atau Tempo, lantas di kemudian hari mereka di protes, bahkan dijebloskan dengan sewena-wena ke dalam jeruji besi. Apa karena medianya 'cuma' internet? Apa karena medianya cuma detik.com yang gak sejelas Kompas atau Tempo atau media lain yang ada wujudnya?

Atau sebenarnya yang patut dipertanyakan adalah embel-embel RS International yang memang ternyata masih bermental daerah? Yang tidak mau dikritik dan bereaksi tidak seperti cara badan sosial. Kalo demikian pantas sudah kalau pelayanannya dikeluhkan.

Atau mungkin memang kebebasan kita untuk mengeluarkan pendapat sudah tidak dijamin lagi oleh negara.

Seperti yang gw katakan sebelumnya, gw tidak kenal secara pribadi mba Prita Mulyasari, tapi gw kenal semua orang yang tertindas. Bagaimana dengan kamu?


Buat yang mau turut berpartisipas bisa berkunjung ke sini
Untuk berita resminya bisa dilihat di Koran Tempo.
Untuk posting terkait bisa dicek di_sini, di_sini, di_sini (dan masih banyak lagi, monggo digooling aja)

.

29/05/09

Semua Orang Berubah... (Perjalanan II)

jadi beginilah gw mulai bercerita... (perjalanan i)


Senyumnya sinis, tatapannya penuh curiga, tapi gw tidak mengacuhkannya. Gw gak peduli apa yang ada di otaknya, atau yang ada di kepala temannya Benny, atau di kepala orang lain, dan gw juga gak mau mencoba untuk peduli. Gw hanya bisa berharap mengetahui isi kepala dia saat ini. Gw berharap dia masih seperti orang yang gw kenal dulu dan gw sama-sekali gak berani berpikir kalo ternyata gw salah, dia berubah.


Semua orang Berubah...
Tadi pagi gw bangun dengan rasa nyeri di dada. Ketakutan yang menjalar pelan ke sendi-sendi saat sms gw ternyata gak sampai. Nomor dia tidak aktif untuk ditelepon. Gw masih berusaha menepis pikiran-pikiran buruk dalam hati. Gw coba hubungi rumah orang tuanya, dan ternyata kemarin dia tidak pulang ke rumah orang tuanya, seperti yang dia katakan saat meminjam mobil ke gw.

Kali ini gw tidak bisa berbantah dengan pikiran-pikiran gw. Tengkuk gw merinding karena dingin menjalar menggerogoti tubuh. Nyeri yang menjalar seolah mendapat alasan untuk menyesakan tubuh. Kepala gw pusing seperti dihujam gadam, menggudam menyebabkan mual yang tak bisa dimuntahkan. Gw mencari pegangan untuk menopang tubuh.

Gw telpon orang tua gw, gw telpon teman gw, dan gw telpon Benny...
Benny yang meminjamkan mobil itu ke gw. Dia sendiri pun meminjam dari ayahnya. Lihat, betapa hebatnya gw berani meminjamkan kepercayaan Benny ke orang lain. Mungkin kesalahan Benny dan gw adalah meminjamkan apa yang bukan milik sendiri dengan jaminan rasa percaya.

Gw dan Benny mengerjakan perusahaan yang sama, systronic-id, dan minggu itu sebenarnya kami akan sangat sibuk dengan pekerjaan kami, tapi gw mengacaukannya.

Benny datang ke apartemen gw, dan kami berdua melapor ke pos keamanan. Untuk kamu ketahui, mobil yang dibawa lari tanpa paksaan bukan digolongkan curanmor (Pencurian Kendaraan Bermotor), melainkan penggelapan. Orang yang menatap gw dengan curiga dan tersenyum sinis itu adalah kepala keamanan mediterania residen 2, Rustam.

Jelas, gw meminjamkan apa yang bukan punya gw untuk dibawa lari, siapa yang gak curiga. Belum lagi setiap ditanya gw terkesan tidak becus menjawabnya. Gw akui itu, karena pikiran gw punya caranya sendiri untuk mencerna apa yang sudah dan akan terjadi dengan semuanya ini. Dan karena itu gw gak protes bila orang curiga ke gw, bahkan sekalipun itu... sahabat gw.

Hei, gw gak takut semua dari kamu mencurigai gw. Gw sama-sekali gak takut! Gw cuma takut kalau mobil itu tidak ketemu. Gw cuma takut kalo ternyata sahabat gw memang benar-benar menghianati gw! Gw cuma takut apa yang tidak pernah gw pikirkan menjadi tamu dalam hidup gw. Itu yang ada di otak gw.

Malam itu gw dan benny ke rumah orang tua dia. Gw lahir dan besar dari keluarga baik-baik, bersahaja, dan setidaknya cukup harmonis di mata kebanyakan orang. Gw rasa keluarga gw salah-satu dari sedikit keluarga yang mengerti akan arti kata 'keluarga', bahkan sering kali malah terlalu berlebih. Jadi saat gw ketemu dengan orang tua yang mengutuk anaknya sendiri, bahkan ingin memutuskan hubungan keluarga, itu gak bisa masuk di otak gw.

Ok lah kalo diusir dari rumah karena kurang ajar, atau kawin tanpa restu. Tapi setahu gw dari pengalaman teman-teman gw, orang tua mereka akan menolong anaknya saat anaknya dalam masalah bahkan saat sudah memiliki cucu biasanya hati orang tua akan cair. Tapi gw gak lihat itu. Gw gak lihat. Dan gw pengen nangis saat lihat ada seorang ibu yang punya hati selegam tembaga. Tapi get real lah!! Masa anaknya habis bawa lari mobil orang, gw yang nangis?!! Gw cuma berharap semua ini berhenti di sini dan gw terbangun dalam ranjang berpeluk guling.

Gw masih berharap hari itu dia menghubungi gw, atau setidaknya mengembalikan mobil dengan diam-diam, dan meminta maaf setelahnya. Gw masih berharap dia hanya sekedar khilaf, atau memang dia punya kepentingan yang dia tidak bisa katakan, namun akan mengembalikan setelahnya. Menurut kamu, masih naif kah gw untuk mempercayai itu semua?

Atau memang gw keras-kepala untuk tidak menerima kenyataan bahwa setiap orang berubah. Bahwa ternyata setiap orang berjalan maju untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan, terhadap hidup dan kebutuhan mereka -- terlepas ke arah positif atau negatif langkah mereka. Sedangkan gw masih tetap di sini, seperti seorang bocah yang mengira setiap orang akan selalu dia temukan di tempatnya yang sama, seperti matahari yang selalu terbit dari timur.

Mungkin itu sebabnya gw gak pernah bertahan dalam sebuah hubungan, karena gw berharap pasangan gw tetap sama, atau bisa jadi karena gw tidak bisa berubah seperti yang mereka mau.


Mujizat ke dua...(perjalanan iii)

.

Jadi, Beginilah Gw Mulai Bercerita.... (Perjalanan I)

Gw harap ini menjadi rangkaian posting terakhir di bulan ini dan juga menjadi posting penutup Joe's House... Posting ini by request salah-satu pembaca di sini. Iya, gw juga heran sejak kapan blog gw jadi melayani permintaan tulisan. Tapi ya sudah lah, namanya juga tuan rumah yang baik, ada kalanya sedikit menuruti permintaan tamu.

Jadi, beginilah gw mulai bercerita tentang....

Siang ini sama teriknya dengan siang itu. Siang di mana gw terpaku pada awan yang bergerak perlahan, seolah siang itu semua bergerak sesuai dengan siang-siang lainnya -- kantuk sehabis makan siang yang coba disanggah dengan segelas kopi, lagu yang monoton bersama penyiar yang monoton mendayu dari radio monolog. Tapi ternyata sama-sekali berbeda.

Kejadian tersebut tepat berada satu bulan yang lalu, saat di mana semuanya bagai mimpi yang tersedak ke dalam dunia nyata, tidak pernah terbayangkan. Bahkan sampai sekarang pun tidak bisa gw mengerti. Jika kamu pernah merasa gamang -- berjalan dalam tidur, makan ini lah perjalanan gw menembus mimpi.

Mengasihi Hingga Terluka

Tuhan adalah saksi bahwa gw tidak pernah mereka-rekakan sesuatu yang jahat terhadap sahabat-sahabat gw. tapi itu bukan garansi resmi bahwa gw tidak akan diperlakukan demikian oleh orang lain.

Gw rasa kamu pasti akan sepakat dengan gw, bahwa kalau ada seseorang yang tidak dikenal berbuat jahat, kita tidak akan se-terluka jika yang melakukannya adalah teman kita, bahkan yang kita anggap saudara kita. Mungkin istilah 'menaruh (maaf) tai di piring untuk dikembalikan', sekali lagi tepat untuk kali ini.

Senin itu dia datang ke apartemen gw, sesuatu yang sudah direncanakan satu minggu sebelumnya,
Yud, minggu depan gw mau ke Jakarta nih. Lu bisa kan temani gw? Gw ada beberapa urusan nih, jadi lu antar gw. Seperti biasa, kek dulu aja. Udah ye, gw mau boker dulu nih

Kamu gak salah baca, memang orangnya asal bangat kalo ngomong, beberapa orang bilang kasar. Cuma buat gw sendiri tidak terlalu risih untuk hal tersebut, karena terkadang kata-kata gw gak lebih baik dari gembel tak berpendidikan yang senang memaki seenak perut mereka yang kelaparan.

Sama sekali gw gak punya firasat buruk, bahwa Senin 20 April itu, pertama dalam hidup gw, sesuatu yang mengerikan akan terjadi, yang akan membuat hidup gw gak akan sama lagi. Mungkin kalau gw tahu apa yang bakalan menimpa gw, gw akan meneruskan menekuri ranjang tanpa menghiraukan telepon dia yang berisik berdering.

Gw mengendarai Daihatsu Terios melintasi Harmoni menuju Pancoran, Glodok. Mata gw masih berat, kepala gw pusing karena kurang tidur, tapi gw berharap sarapan sebentar lagi di bakmi langganan kami dulu akan memperbaiki kondisi fisik gw pagi itu. Jadi gw sanggupkan permintaan dia untuk cari makan di Glodok.

Melintasi Glodok mau gak mau gw akan mundur melintasi waktu, waktu di mana gw masih satu kerjaan dengan dia. Dulu gw merupakan staf dia. Kalo kamu tahu Tamani Cafe di daerah Pancoran-Glodok, kantor gw tepat berada di sampingnya. Itu pertama kali gw kerja dan itu pertama kali gw menghasilkan lima juta pertama -- gaji gw. Waktu itu usia gw masih sangat muda, 20 tahun. Gw punya alasan sentimental untuk kuliah sambil bekerja, karena pacar gw 2 tahun lebih tua dari gw. Waktu itu gw masih terlalu naif, sehingga gw pikir kalo gw bisa lebih mapan duluan dari dia, tentu kami bisa hidup bahagia.

Sedikitnya itu ada benarnya, karena pacaran itu menghabiskan banyak uang -- setidaknya saat pacaran dulu. Gw gak tahu kalau waktu itu gw gak kerja, bakalan bisa sukses pacaran lima tahun atau enggak. Tapi ya seperti yang gw bilang, gw terlalu naif dan goblok.

Kenapa gw singgung mantan gw yang pertama? Karena dia satu-satunya yang mentertawakan hubungan kami. Dia bilang, lu gak bisa pacaran model gitu. Cepat atau lambat lu pasti putus. Tinggal lu putus dalam kondisi impas atau gempor

Dulu gw orang yang keras kepala dan berusaha untuk membuktikan omongan dia salah. Ternyata idealisme murahan memang gak bisa menang lawan pengalaman.

Dia bukan orang sok suci, dan dia memang tidak menutupi kebrengsekan dia -- setidaknya itu yang orang-orang cap ke dia. Tapi gw hargai kejujuran dan rasa keadilan yang terlampau besar. Mungkin karena itu, tarolah gw bersimpati. Mungkin karena itu, kembali lagi, gw terlalu naif dan goublok.

Terus-terang, gw hanya berpikir keliling-keliling Jakarta ini hanya sebagai jalan-jalan tanpa tujuan, menemani dia. Jadi seperti anak kecil, gw patuhi saja semua tujuan yang dimintanya -- Glodok, PGC Rawa Bening, Jatinegara, Muara Angke, hanya untuk hal-hal sepele, makan, otak-otak, minum. Gw sempat menolak untuk ke Depok. Bukan juga karena curiga, tapi karena gw terlalu lelah.


Sore itu gw hanya menyaksikan dari belakang Terios itu berlalu meninggalkan gw,
lu keknya kecapaian? Udah istirahat aja, biar gw aja yang bawa nih mobil.

Ada perasaan cemas sewaktu mengingat dia mengatakan itu, gw cemas karena dia bilang belum pernah bawa matic. Gw sudah wanti-wanti untuk hati-hati, tapi kapan dia gak pernah hati-hati? Sewaktu dulu dia pinjam mobi, dia kembalikan tanpa satu gores pun. Itu bukan kali pertama. Justru seingat gw, gw yang teledor kalo minjem mobil dia -- dari balikin yang telat, bensin yang lupa di isi.

Hehe tumben lu baik bangat ngasih uang bensin!

Setidaknya gw berubah. Gw bukan Yuda yang dulu, yang -- terus-terang, menghitung setiap jasa dan pamrih.


Sebelum Senin itu berakhir, gw mengirim sms
[sms]
Kel,d mna?Kok gk ada kbrny?Gk jd k tmp gw mlm ini?Bsk jgn smp trlmbt ya.Itu mbl mau gw pake k kantor,gw gk bs prtanggungjwbkn k kantor kalo k kantor tnp mobil.Tq
[sms selesai]



semua orang berubah...(perjalanan ii)
.